Blog

Pencegahan dan Penanganan Pornografi

Negara Indonesia adalah negara hukum yang berdasarkan Pancasila dengan menjunjung tinggi nilai-nilai moral, etika, akhlak mulia, kepribadian luhur bangsa dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta menghormati kebinekaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta melindungi harkat dan martabat setiap warga negara.

Dalam era globalisasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan andil terhadap meningkatnya pembuatan, penyebarluasan dan penggunaan pornografi yang memberikan pengaruh buruk terhadap moral dan kepribadian luhur bangsa Indonesia sehingga mengancam kehidupan dan tatanan sosial masyarakat Indonesia.

Dengan adanya perkembangan teknologi yang sangat canggih, banyak manfaat dan kemudahan yang diberikan oleh alat teknologi tersebut tetapi perkembangan ini juga membawa akibat negatif. Salah satu akibat negatif yang sering ditemui adalah semakin berkembangnya pornografi melalui dunia maya atau dunia internet yang mengakibatkan meningkatnya tindak asusila dan pencabulan.

Masalah pornografi yang saat ini muncul adalah mudah diakses dan muncul di berbagai media cetak maupun elektronik yang dengan sengaja mempertontonkan aurat perempuan, hal ini berdampak dan dapat mempengaruhi seseorang untuk melakukan hal-hal yang tidak diinginkan seperti pelecehan seksual, perkosaan, pencabulan dan sebagainya yang saat ini sering terjadi dimasyarakat. Sehingga apabila salah/keliru dalam memahaminya pasti pornografi merusak kehidupan manusia di masa kini dan masa yang akan datang. Terutama bagi anak yang masih remaja dan masih labil pornografi akan mudah disalahgunakan.

Pada dasarnya setiap manusia memiliki naluri seks dan karena itu wajar merasa senang dengan materi seks. Namun demikian, bila remaja sudah sering mengkonsumsi pornografi sangat mungkin akan timbul dorongan untuk menyalurkan hasrat seksualnya dengan cara melakukan hubungan seks dengan lawan jenis yang terlalu dini dilakukan di usia yang masih remaja. Oleh karena itu, mengkonsumsi pornografi sejak remaja potensial mendorong tumbuhnya perilaku seks di luar pernikahan yang tidak bertanggungjawab yang dapat menghasilkan kehamilan para remaja di luar nikah atau penyebaran penyakit yang menular melalui hubungan seks, seperti PMS/AIDS.

Salah satu contoh kasus pornografi yang paling terkenal adalah tersebarnya video porno Ariel dan Luna Maya yang beredar luas di masyarakat. Ariel menyimpan rekaman video pornografi di eksternal harddisk yang jadi satu dengan data aktivitasnya sebagai pemusik. Reza salah satu teman Ariel mendapat video tersebut pada saat meminjam eksternal harddisk. Oleh Reza file tersebut diserahkan kepada Anggit. Berawal dari sinilah video tersebut tersebar antara lain lewat internet. Atas perbuatannya tersebut Ariel dinyatakan turut serta terlibat dalam tindak pidana penyebaran video porno dan dijatuhi hukuman penjara 3,5 tahun oleh Pengadilan Negeri Bandung.

Selain itu masih ada kasus pornografi lainnya seperti pelecehan khususnya terhadap wanita di dalam angkutan umum di Jakarta, sepasang remaja yang masih berumur belasan tahun yang merekam adegan layaknya suami istri tersebut dan tanpa disengaja video tersebut tersebar ke masyarakat melalui handphone, internet dan media lainnya.

Dari contoh-contoh kasus diatas dapat disimpulkan masih lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku, penyebar pornografi karena masih banyaknya situs-situs porno yang bisa diakses kapanpun, siapapun dan dimanapun.

Oleh karena itu pengaturan pornografi berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa, penghormatan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan, kebinekaan, kepastian hukum, nondiskriminasi, dan perlindungan terhadap warga negara. Hal tersebut berarti bahwa ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang No. 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi adalah:

1. Menjunjung tinggi nilai-nilai moral yang bersumber pada ajaran agama;
2. Memberikan ketentuan yang sejelas-jelasnya tentang batasan dan larangan yang harus dipatuhi oleh setiap warga negara serta menentukan jenis sanksi bagi yang melanggarnya; dan
3. Melindungi setiap warga negara, khususnya perempuan, anak, dan generasi muda dari pengaruh buruk dan korban pornografi.

Masalah pornografi telah diatur dalam undang-undang tetapi peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pornografi yang ada saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan hukum terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku dan penyebar pornografi.

Permasalahannya saat ini, materi pornografi yang ada saat ini dapat dengan mudahnya dilihat oleh siapapun mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa, sejauh mana peran pemerintah dalam menangani masalah pornografi yang semakin berkembang luas di tengah masyarakat Indonesia khususnya generasi muda?.

II. Pengetian Tentang Pornografi

2.1 Pengertian Pornografi
Pornografi adalah penyajian seks secara terisolir dalam bentuk tulisan, gambar, foto, film, pertunjukan atau pementasan dengan tujuan komersial. Tujuan komersialartinya mereka yang ingin menonton pertunjukan seksual ini harus mengeluarkan sejumlah uang, paling tidak untuk mengakses internetnya.

2.2 Maksud dan Tujuan Penanganan Pornografi
Memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat akan bahaya pornografi terutama bagi remaja dan tindakan yang dilakukan untuk mencegah penyebaran ponografi di masyarakat luas.

2.3 Jenis Media Pornografi
Unsur media menjadi suatu patokan utama berkait dengan batasan pornografi tersebut. Media yang dimaksud dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga ) kelompok besar yaitu :

1. Media audio (dengar, yang termasuk dalam kategori ini diantaranya siaran radio, kaset, CD, telepon, ragam media audio lain yang dapat diakses di internet:
a. lagu-lagu yang mengandung lirik mesum, lagu-lagu yang mengandung bunyi-bunyian atau suara-suara yang dapat diasosiasikan dengan kegiatan seksual;
b. program radio dimana penyiar atau pendengar berbicara dengan gaya mesum;
c. jasa layanan pembicaraan tentang seks melalui telepon (party line) dan sebagainya.

2. Media audio-visual (pandang-dengar) seperti program televisi, film layar lebar, video, laser disc, VCD, DVD, game komputer, atau ragam media audio visual lain yang dapat diakses di internet :
a. film-film yang mengandung adegan seks atau menampilkan artis yang tampil dengan pakaian minim atau tidak (seolah-olah) tidak berpakaian.
b. adegan pertunjukkan musik dimana penyanyi, musisi atau penari latar hadir dengan tampilan dan gerak yang membangkitkan syahwat penonton.

3. Media visual (pandang) seperti koran, majalah, tabloid, buku (karya sastra, novel popular, buku non-fiksi) komik, iklan billboard, lukisan, foto atau bahkan media permainan seperti kartu:

a. Berita, cerita atau artikel yang menggambarkan aktivitas seks secara terperinci atau yang memang dibuat dengan cara yang demikian rupa untuk merangsang hasrat seksual pembaca.
b. Gambar, foto adegan seks atau artis yang tampil dengan gaya yang dapat membangkitkan daya tarik seksual
c. Fiksi atau komik yang mengisahkan atau menggambarkan adegan seks dengan cara yang sedemikian rupa sehingga membangkitkan hasrat seksual.

2.4 Ciri-Ciri Pornografi
a. Pornografi itu adalah perbuatan seks yang dilakukan demi seks itu sendiri. Artinya, pementasan atau pertunjukan hal-hal seksual itu terlepas dari nilai-nilai personal manusiawi seperti cintakasih dan kemesraan. Tandanya yakni pemusatan perhatian hanya pada tubuh melulu, terutama pada penggunaan alat kelamin terlepas dari arti personal dan sosial seksualitas. Biasanya manusia hanya dipakai sebagai sarana dan obyek pemuas penonton atau dijadikan alat hiburan. Terutama dalam hal ini kaum hawa yang selalu dilukiskan sebagai kenikmatan yang tersedia.

b. Adanya rangsangan nafsu birahi dari penonton. Hal ini dilakukan secara ofensif dan agresif. Secara ofensif dan agresif artinya bahwa birahi si penonton itu diserang sedemikian rupa oleh rangsangan-rangsangan dari perbuatan-perbuatan porno yang dilakukan dengan sengaja.

c. Adanya peningkatan daya rangsangan secara otomatis secara tidak terbatas. Dikatakan tidak terbatas, karena para pelaku pornografi ini dapat menggunakan segala cara bahkan sampai menjurus ke hal-hal yang bersifat brutal yang dapat disebut sebagai teror kejiwaan. Tentunya peningkatan ini didorong oleh komersialisme atau dengan tujuan supaya pertunjukan porno itu menjadi lebih laku atau laris.

d. Usaha untuk membawa penonton memasuki dunia khayal. Artinya, para pembuat pornografi tidak hanya bermaksud merangsang penonton, melainkan juga membawa penonton pada dunia kayalan tentang kenikmatan yang tidak terbatas. Jadi dengan segala macam teknik merangsang, para penonton dimanipulasi.

2.4 Akibat Pornografi

This Post Has 0 Comments

Leave A Reply

You must be logged in to post a comment.